CUKUP SEKALI AKU KEHILANGAN ..

teman-teman ini ada cerita sedikit, dari teman (MURTI) saya, katanya mau di share kan di blog ku, yowes tak share kan, silahkan dibaca ::

 

Pagi ini begitu dingin. Embun putih masih menyelimuti beberapa bagian permukaan bumi di Jogja. Angin masih setia menggoda dedaunan untuk bergoyang di atas dahannya.Angin juga bersikeras menembus jendela Rifa yang sedikit menganga hingga berhasil membuat penghuni kamar itu menggigil.

 

“Rifa, bangun sayang, udah siang”, kata ibunya sambil menarik selimut bercorak polkadot yang masih melekat di tubuh Rifa dan kemudian duduk di bibir tempat tidur anak sulungnya itu.

“Ayok kak Ifa, bangun, masa kalah sama Caca” celoteh adiknya sambil mengguncang-guncang tubuh kakaknya.

“hoaaamm, iya iya deh”

Rifa pun bangun dengan kelopak mata yang masih setengah menutupi bola matanya yang sipit. Sambil mengucak-ucak matanya, Rifa menarik selembar handuk biru muda dan menyelempangkannya ke pundak.

 

“Ma, hari ini Rifa bolos aja ya?” dengan malas-malasan.

“Enak aja, mau jadi apa anak mama ntar kalo kerjanya bolos mulu, gak boleh, buruan sana mandi, apa perlu mama yang mandiin?”

“idiihh, ogah ah ma, emangnya Rifa bayi tua? Rifa kan udah 17 tahun” jawabnya sambil manyun.

Mamanya hanya cekikikan melihat putrinya berjalan menuju kamar mandi sambil memangku Caca.

“Jangan lama-lama nak, mama udah nyiapin nasi goreng di dapur, mama mau ke pasar sama adek, ntar jangan lupa kunci pintunya kalo berangkat sekolah ya” saut mamanya yang berlalu sambil menggandeng tangan mungil Caca.

Rifa tak menyaut, namun mamanya sudah mengerti karena setiap hari memang itulah kebiasaan mereka.

 

  Ibu Rifa seorang single parent yang sekitar 2 tahun lalu ditinggal sang suami karena “selingkuh”, mungkin semula sang ibu paruh baya ini hampir tak percaya dengan kelakuan suami yang sangat dicintai dapat melakukan hal yang setega ini padanya dan juga pada anak-anaknya, namun nasi sudah menjadi bubur. Ayah Rifa yang notebene adalah pengusaha tekstil memang jarang sekali stay di rumah, namun istrinya sudah manaruh kepercayaan pada suaminya. Sejak kejadian itu, ibu Rifa sudah bertekad untuk minta cerai dengan suaminya dan akan mengambil hak asuh Caca, adik Rifa, ke tangannya. Padahal ayahnya sudah berkali-kali meminta maaf dan menyesal atas kelakuan yang nista itu, namun hati yang terlanjurr sakit sangat sulit disembuhkan. Dan karena tidak mau bergantung pada mantan suaminya, Ibu Rifa pindah rumah ke kontrakan sederhana, setidaknya ia ingin lepas dari bayang-bayang mantan suaminya itu. Rumah yang dulu diberikan oleh suaminya juga sangat jauh lebih besar dibandingkan rumah kontrakannya saat ini.

     “Rifa, mama tahu pasti kamu dan adik kamu risih tinggal di rumah ini, tapi..”

     “Mama, Rifa ngerti kok, Rifa juga bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti dengan keadaan hidupnya, Rifa justru bangga punya mama yang tegar seperti mama, dan Rifa berjanji akan jauh lebih tegar hidup dengan mama tanpa papa,Rifa ingin menjaga Caca bersama mama,dan Rifa ingin buat mama jadi bangga” : )

Mamanya seakan baru sadar bahwa putri cantiknya sudah besar, anaknya memang masih remaja, namun pemikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya.

     “Makasih sayang, mama janji akan berjuang untuk menghidupi sendiri keperluan kita, mulai dari makan, sampai biaya kamu sekolah”

     “Tapi ma, Rifa gak tega kalo harus ngeliat mama kerja keras demi Rifa, gimana kalo Rifa bantuin mama, Rifa gak usah sekolah aja ya ma?”

     Sementara Caca hanya bisa menyaksikan kedua orang itu berbincang dengan wajah polosnya. Caca masih berumur 5 tahun.

     “Hust, gak! Kamu itu harus mencari ilmu setinggi-tingginya nak,mama ingin melihat kamu sukses,” kata mamanya serius. “Dan bisa ngajakin mama naik haji” lanjut mamanya sambil tertawa kecil.

“Hehe, Amiinnnn” kata Rifa sambil melingkarkan lengannya di tubuh renta ibunya.

 

Dekapan ibunya memang hangat, bahkan lebih hangat di bandingkan selimut, juga begitu nyaman. Pantas saja adik bayi yang di gendong oleh ibu mereka selalu tidur dengan tenang, dekapan seorang ibu yang begitu hangat, lembut, dan begitu tulus dapat menghantarkan bayi-bayi mungil itu menuju mimpi indahnya.

Ibu Rifa sudah setahun lalu menjadi penjual kue di rumahnya, kadang ia juga menitipkan dagangannya ke pasar. Kecuali jika Rifa sedang libur, maka ia yang menggantikan posisi ibunya untuk mengantar kue-kue itu. Tak jarang ibu Rifa juga sering mendapatkan pesanan dari tetangga-tetangganya. Mereka sudah sering memesan karena mereka tahu kue buatan ibu Rifa tak kalah enaknya dengan kue-kue yang ada di toko, selain itu harganya juga tak sampai memeras dompet.

Kehidupan Rifa sangat berbeda 180 derajat dari sebelumnya, dulu ia bisa berangkat ke sekolah di antar dengan Pak Mamang supir pribadi keluarganya, namun sekarang ia pergi sekolah hanya dengan angkot. Namun Rifa tak pernah malu dengan keadaannya sekarang, dia bahkan jauh lebih tegar di bandingkan setelah kejadian 2 tahun lalu itu.

 

-Di sekolah-

 

“Awaas ni kecoaaa!!!”

“AAAAAAAaaaaa!!” teriak Rifa mengeluarkan suara cemprengnya sambil menutup mata.

“Jauhin dari gue!!! Buruaaannn!!” sambil loncat-loncat ketakutan dan menghindari kecoa-kecoa menjijikan itu.

Rifa memang phobia serangga, terkhusus pada kecoa. Hewan satu ini memang sering ngajak Rifa berantem. Di rumahnya saja, kalo dia nemuin kecoa, dia lari tunggang langgang ke atas kursi sambil “hush-husshh”. Kadang juga kecoa-kecoa itu di temukan tak bernyawa karena Rifa tak akan membiarkannya kabur sebelum mati. Yaah, tak jarang bukan kecoanya yang mati, justru perabotan rumahnya seperti sapu, kemoceng, sendok, akan cacat Karena Rifa.

“Ahaha, Rifa geblek! Lu liat donk tuh” sambil tertawa meremehkan dan meluncurkan telunjuknya kearah lantai.

“Mayaaaaaaaaaaa!!!!” sambil bertolak pinggang dan tatapan mata yang bgitu tajam, setajam silet.

“Dasar penakut, itu Cuma kertas doang bego!” kata Maya yang meremehkan Rifa. Maya pun segera berlalu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Rrrrggghh!!!” Darah Rifa sudah sampai ke ubun-ubun, untung saja cewe rese itu segera pergi dari hadapannya, kalau tidak, mungkin nasib Maya akan sama seperti kecoa-kecoa di rumahnya.

Maya bisa disebut musuh bebuyutan Rifa, sejak SMP dulu mereka berdua tidak pernah akur, awalnya sih masalah sepele*(bagi Rifa), dulu Rifa gak sengaja jatuhin HP Maya di kubangan air kotor, keduanya sama-sama ceroboh. Mereka jalan dengan arah berlawanan, Maya sedang asik ngobrol dengan teman2nya sambil mainin hape, sedangkan Rifa lari terbirit-birit karena kabur dari kejaran si Gembul Anton yang cengengesan membawa kecoa di tangannya, dan “Brukkk!!”

Bukan Cuma orangnya yang jatuh, tapi hape Maya tepat jatuh di kubangan air kotor itu.

“Rifaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” kepala Maya seakan mendidih dan mengeluarkan tanduk, hidung dan telinganya mengeluarkan asap, mukanya merah seperti kepiting rebus, dan terjadilah aksi jambak-jambakan di situ, teman-teman di sekitar mereka bukannya melerai namun malah menonton dengan asik.

“Eh lu pegang Rifa atau Maya” celetuk seorang siswa.

“Kayaknya Maya deh yang bakal menang, tuh rambut Rifa banyak yang nyangkut di sela-sela jari Maya” sambil melotot ngeliatin mereka berantem.

“Ah, masa sih, gue pegang Rifa deh, klo Rifa yang menang, lu traktir gue bakso semangkok ya!”

 

Aduh,dasar anak SMP, pikirannya masih konyol seperti itu. Parah! Maya dan Rifa sempat di panggil ke ruang kepsek dan di paksa untuk bermaafan, mereka emang maaf-maafan di ruangan itu, tapi kalo di luar, hmmm, udah seperti Tom and Jerry. Dan sampai SMA ini, kelakuan cewe-cewe ini malah tambah parah, dan entahlah kenapa mereka bisa satu sekolah.

“Hai Fa, mukanya kok manyun gitu? Bete ya?” Tanya Aldi seraya duduk di samping Rifa.

“Banget” jawabnya singkat.

 

“Aldi beliin Coklat ya?”

“Mauuuu!!” wajahnya mendadak ceria mendengar makanan favoritnya di sebut kekasihnya itu.

“Yeee, kalo coklat aja langsung gitu” sambil mengelus rambut hitam Rifa. “Bentar yah”. Aldi berlari ke kantin.

Aldi adalah kekasih Rifa sejak pertama masuk SMA dulu, awalnya sih sahabat sejak SMP, tapi Aldi tak dapat menampung terlalu lama perasaannya, terlalu sering melewati hari-hari bersama, banyak hal menarik dari Rifa. Dengan Rifa, Aldi bisa mencurahkan segala isi hatinya. Di saat senang maupun sedih, Rifa selalu ada di sampingnya, begitu sebaliknya dengan Aldi, dan tak disangka Rifa juga memiliki perasaan yang sama. 3 tahun sudah hubungan mereka, tak sedikitpun rasa yang ada dalam hati mereka berkurang, bahkan bibit kasih sayang itu selalu tumbuh dan berkembang di hati mereka. Aldi selalu mencoba memenuhi apa yang Rifa butuhkan darinya, karena itu sebagai tanda sayangnya yang tulus.

“Assalamualakum ma, Rifa pulang” Rifa langsung menuju dapur setelah meletakkan sepatunya di rak.

“Walaikusalam” jawab ibunya yang samar-samar terdengar dari dalam dapur.

“Kakaakk!!Hehe” sambil memamerkan boneka barunya.

“Dari siapa itu dek?”

“Tadi mama beliin di pasar kak” sambil merapikan baju bonekanya. Rifa mengelus kepala adiknya.

Sementara ibunya masih asik mengaduk adonan kue di tangannya, ia tersenyum melihat tingkah anaknya. Setelah ganti baju, Rifa langsung membantu ibunya membuat kue yang akan di jual besok.

“Duh, pinggang mama kok sakit ya?” gerutu mamanya sambil memegang pinggangnya yang terasa pegal dan berdenyut perih.

“Yaudah, mama istirahat di kamar aja, biar Rifa yang lanjutin semuanya”. Rifa menopang Ibunya di kamar. “Adek temenin mama di kamar sambil main bonekanya ya, Kak Ifa mau lanjutin kuenya?”, “Oce kak fa”. Sambil mengangkat jempol kecilnya.

     Begitulah rasa kepedulian Rifa yang begitu besar dengan Ibu dan adiknya. Harta Rifa yang paling berharga, sisa 2 orang itu, maka dari itu Rifa tak tega jika melihat kedua orang yang disayanginya itu sedih, dan rapuh. Rifa akan segera menegarkan hati mamanya di kala mamanya memiliki masalah dan di landa rasa cemas. Dan senantiasa menghibur adiknya jika merasa kesepian maupun sedih. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, Rifa berusaha menopang perasaannya sendiri jika ia sedih, dan tak jarang ada Aldi yang selalu menghiburnya.

     Malamnya, Rifa menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan mendapatkan hapenya berisi beberapa pesan dari Aldi yang menanyakan kabarnya, ia segera membalasnya. Aldi memang biasa mengirimkan Rifa pesan setiap malam sebelum Rifa mengerjakan tugas, dan tepat jam 10, Aldi akan mengirimkan ucapan selamat malam pada Rifa.

     Sambil SMSan dengan Aldi, Rifa tiba-tiba teringat kejadian tadi di sekolah, Rifa segera mencari sebuah nama di kontaknya, “Maya Dekil”, langsung saja jemarinya mengutak atik tombol QWERTY di hapenya.

‘Eh lu! Bsok gw ga mw tw, pkox lu mesti minta m’f k gw!’

‘What? Eh dgr y kcoa busuk! Gw g bkl mw mnt m’f m lo! Kcuali…’

‘kcuali ap?’

‘kcuali Aldi buat gw!’

‘Enak aja lo, sampe kpnpun gw g akn ks dy k cwe tengik ky lo!!’

‘eh sialan lo! jgn nngs klo dy gw rbt!’

Membaca pesan dari Maya itu, kening rifa mengerut, apa-apaan sih, kenapa tumbalnya mesti Aldi. Tapi Rifa yakin, Aldi gak mungkin ninggalin dia demi cewe rese seperti Maya.

Besoknya di sekolah, Rifa dan Aldi makan di kantin, tepat di meja ke 4 setelah meja merekaa, Rifa melihat Maya sedang menyantap sandwichnya. Teringat pesan Maya tadi malam, Rifa langsung mengajak Aldi pergi. Tanpa di sadari, Maya hanya melihat kedua orang itu pergi dengan tersenyum sinis. ‘Gue bakal ngerebut Aldi dari lo’.

Dendam dalam diri Maya masih sangat melekat karena kejadian sewaktu dia SMP itu, memang sangat sepele, namun kejadian yang memalukan itu membuat Maya di tertawakan banyak teman-temannya serta disaksikan puluhan pasang mata, termasuk cowo gebetannya yang terlanjur illfeel dengan Maya. Sampai sekarang pun Maya tidak berhasil mendekati Rico, bahkan sekarang Rico sudah memiliki kekasih yang benar-benar membuat Maya jealous setengah mati. Karena alasan itulah dendam Maya harus terbalaskan. Bayangkan saja, Maya sudah ngejar-ngejar cowo itu selama 5 tahun, sejak kelas 1 SMP, dan kini harus melihat Rico jalan dengan cewe lain.

 

Sepulang sekolah Rifa benar-benar kaget melihat Caca nangis tersedu-sedu diteras.

“Kenapa ca?” sambil menatap adik satu-satunya itu.

“Mama kasian kak fa, mama gak bisa berdiri, pinggangnya sakit, dari tadi mama belum mamam kak” katanya sambil memeluk boneka kesayangannya itu.

Sambil menggandeng adiknya, Rifa menuju kamar mamanya dan melihat mamanya sedang berbaring.

“Mama kenapa gak kabarin Rifa kalo mama sakit? Kalo tau gitu kan tadi Rifa bisa ijin pulang ma”

“Gak apa-apa nak”

“Yaudah sekarang kita kerumah sakit ngecek pinggang mama”

Rifa membantu menopang ibunya berjalan, dengan sangat hati-hati mereka keluar dari rumah, Caca di titipkan di tetangga sebelah.

Di rumah sakit, Ibu Rifa di periksa, hampir 1 jam pemeriksaan dilakukan, mulai dari pemeriksaan dokter, tes urin, tes darah,  dan sebagainya. Rifa sangat berharap Ibunya sakit biasa dan besok akan segera sembuh. Namun tak seperti yang di duga, dokter mendiagnosa ibunya mengalami gagal ginjal cukup parah. Awalnya dokter menyarankan agar ibunya di rawat inap, namun ibu Rifa menolak dengan alasan tidak ada yang menemani Caca, juga karena biayanya. Dengan berbagai macam permohonan, akhirnya dokter mengijinkan dengan syarat bahwa ibunya harus minum obat dengan teratur dan mengecek kesehatan ibunya segera.

Sehari setelah dari rumah sakit, ibu Rifa merasa sudah baikan, ia kembali berjualan kue, kali ini ia tidak menitipkan dagangannya ke pasar karena takut kesehatannya belum pulih sempurna. Caca tetap setia menemani mamanya kemanapun mamanya pergi.

“Mama udah sembuh?” kata anak kecil itu sambil memegang tangan ibunya.

“Udah dong sayang”

 

Di tempat berbeda, Rifa tengah berbincang dengan Aldi tentang kesehatan ibunya, Aldi merasa prihatin dan sepulang sekolah berniat menjenguk ibu Rifa.

Bel berbunyi tanda pulangan, Maya berlari menghampiri Aldi. “Di, gue denger lu mau ngejenguk mamanya Rifa? Gue ikut dong!” bujuknya sambil memegang lengan Aldi. “Loh, lo tau dari mana?” sambil melepas tangan Maya dengan halus. “Ada lah pokoknya, ya gue ikut ya?” katanya lagi sambil tersenyum lebar. “hmm, yaudah kalo lo mau”. “Tapi gue nebeng lo ya?”.

Aldi tak menjawab, tapi Maya tetap ngotot mau nebeng Aldi. Maya langsung naik ke motor Aldi, dan pura-pura takut karena pertama kalinya dia naik motor, jadi ia memegang jaket Aldi, dan lama-kelamaan jadi memeluknya. Selama ini Maya memang tidak pernah naik motor, harta papanya yang melimpah ruah membuatnya selalu di manjakan oleh kendaraan mewah beroda 4 ‘jazz hitam metalic’.

Rifa mendengar ada suara motor matic yang sudah akrab di telinganya, sehingga ia tahu bahwa itu adalah kekasihnya. Dengan senang hati ia keluar rumah, senyumnya mengiringi langkah kakinya menuju teras. Rifa antusias sekali dengan kedatangan Aldi, dia yakin ibunya pasti senang karena Aldy sudah cukup akrab dengan ibunya.

Bibir Rifa yang semula semuringah, tiba-tiba berubah menjadi bentuk a, matanya terbelalak, keningnya mengerut hampir menyatukan kedua alisnya, mengisyaratkan keheranan sekaligus kaget. ‘Apa-apaan ini, kenapa Maya bisa ikut dengan Aldi? Di bonceng lagi? Dan apa benar yang ku lihat tadi? Maya memeluk Aldi? Aku saja pacarnya sangat jarang di gonceng dengan motornya, apalagi memeluknya seperti itu’. Timbul berbagai macam pertanyaan di benak Rifa. Di tengah hatinya yang gundah…

“Assalamualaikum Fa”.sapa Aldi dengan lembut. Mata Rifa masih tertuju pada Maya yang mengikuti Aldi di belakang dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Assalamualaiku Rifa”. Sapa Aldi yang kedua kalinya sambil melambaikan kedua tangannya tepat di depan mata Rifa. Lamunan Rifa buyar Karena sapaan Aldi.

“Eh, iya Di, Walaikumsalam, ayo masuk Di”. Sambil menarik tangan Aldi ke ruang tamu.

“Eh ada nak Aldi dan teman Rifa” sapa ibunya ramah.

 

Maya heran melihat rumah Rifa, setau Maya dulu Rifa memiliki rumah yang besar, hampir sama dengan rumah yang ia miliki, namun saat ini berubah, rumahnya tidak bertingkat, hanya terbuat dari kayu, dan agak pengap jika di tempati mereka.

 

“Bentar ya mama buatkan minum dulu”. Baru selangkah mamanya pergi, Rifa menghadangnya. “Jangan ma, mama disini aja ngobrol-ngobrol sama Aldi dulu, kan Aldi kesini mau jenguk mama, biar Rifa aja yang buatin minumnya”.

Rifa kembali membawakan mereka minuman, melihat Aldi dan Maya duduk bersebelahan, Rifa langsung duduk di tengah-tengah mereka. “Geser dikit May” pinta Rifa. Maya sebenarnya mengerti apa maksud Rifa, namun Maya mengikuti apa yang diinginkannya. Mereka akhirnya hanyut dalam obrolan yang begitu akrab, ditambah lagi celotehan lugu Caca yang membuat mereka semua tertawa.

 

Malamnya Rifa menanyakan semua kepada Aldi tentang kedatangan Aldi. Aldi juga tidak tahu apa yang menjadi alasan Maya ikut menjenguk ibu Rifa. Dengan kejujuran Aldi, Rifa bisa menerima semua jawabannya. Rifa mengatakan hal yang jujur pada Aldi bahwa ia benar-benar Jealous, tapi Aldi  memastikan bahwa ia dan Maya tidak ada hubungan khusus. Selesailah permasalahan mereka tanpa harus bertengkar, mereka memang terbiasa membicarakan perselihan di antara mereka dengan kepala dingin.

 

Keesokan paginya, Rifa kaget dengan menemukan ibunya terjatuh di lantai kamar. Caca masih tertidur lelap. Namun dengan kepanikan Rifa, Caca akhirnya terbangun dan menangis melihat ibunya terbaring di lantai. Rifa mencoba memberi pengertian pada adiknya agar tidak menangis, dan untungnya berhasil. Rifa dengan tangan yang gemetar mengambil handphone dan segera menghubungi rumah sakit. Beberapa saat kemudian ambulance datang dan mengantar ibunya ke rumah sakit. Untung pula hari ini adalah hari Minggu, jadi Rifa tidak berangkat ke sekolah. Caca masih mengeluarkan air mata di pangkuan Rifa, “Mama kenapa kak?” Tanya Caca sambil menatap mata Rifa yang sebenarnya juga di landa rasa cemas. “Mama gak apa-apa kok sayang, Cuma capek aja, makanya mama jatuh”.

Dokter memanggil Rifa untuk ke ruangannya. Dengan halus Dr.Dayna menjelaskan bahwa ginjal ibunya yang sebelah kanan harus di angkat karena sudah tak berfungsi, sedangkan ginjal kirinya begitu lemah hingga harus menjalani operasi.

“Lakukan segera dokter” pinta Rifa.

“Baiklah, nanti siang akan kami segera laksanakan operasi”

 

Rifa hanya bisa mondar-mandir di depan ruang operasi dengan penuh ketakutan. Sesekali di lihatnya adiknya yang tertidur di kursi sambil memeluk bonekanya. Rifa menghampiri adiknya dan meletakkan kepala adiknya di pangkuannya, di elus-elus kepala adiknya. Terlihat tampungan air di pelupuk matanya, dan tak lama kemudian jatuhlah air mata itu membasahi kedua pipi merahnya. Setetes air mata yang jatuh di wajah Caca mengusik tidurnya, namun Rifa mengelus-elus rambut adiknya hingga adiknya tertidur lagi. Terbayang wajah penuh kasih sang Ibu yang merawat ia dan adiknyanya 2 tahun terakhir ini, penuh perjuangan menjadi single parent seperti ibu Rifa, apalagi menginjak umur yang ke 46 tahun, mungkin karena terlalu lelah dan kurang istirahat, inilah akibatnya. Tak lama kemudian Aldi datang.

“Mama kamu gimana Fa?” Tanya Aldi dengan cemas. pertanyaan itu membuyarkan lamunan Rifa.

“Lagi di operasi Di” jawabnya lemas.

“Yang tabah Fa, kita sama-sama mendoakan”. Aldi mengahapus air mata Rifa, dan menyandarkan kepala Rifa di bahunya. Aldi memegang tangan Rifa, mencoba menguatkan Rifa agar tidak terlalu cemas. “Kasihan Caca, pasti dia kecapean”. Kata Aldi melihat anak kecil itu tertidur di pangkuan Rifa.

 

Itulah Aldi, tak pernah luput dari sisi Rifa, ia selalu ada untuk menguatkan hati kekasihnya, kapanpun, dan dimanapun, semampunya. Di tengah rasa kalut dalam hati Rifa, di saat berbutir-butir air mata jatuh dari pelupuk matanya, ada sosok wanita keluar dari ruangan operasi, Aldi dan Rifa menoleh bersamaan, dengan hati-hati Rifa lepaskan pangkuannya untuk adiknya, dan bersama Aldi menghampiri sosok itu.

“Bagaimana keadaan mama saya dok?” sambil meremas-remas tangannya.

“Alhamdulillah operasi pengangkutan ginjal ibu anda berjalan dengan lancar, namun ibu anda harus di rawat inap selama 3 hari di sini”. Katanya sambil membuka kaca mata.

“Alhamdulillah, terimakasih dokter, terimakasih” kata Rifa, terlihat mata sipitnya mulai berkaca-kaca.

Dokter pun berlalu, Aldi memeluk kekasihnya itu. Membelai rambutnya. Caca terbangun dari tidur lelapnya.

“Kak Ifa” panggilnya.

“Caca udah bangun sayang?” menghampiri Caca.

     Wajah penuh lelah Caca dan Rifa membuat Aldi mengajak mereka makan di kantin rumah sakit.

     3 hari berlalu, hari ini ibunya sudah bisa dibawa pulang. Rifa tentu tidak mengijinkan ibunya bekerja, karena ibunya harus sembuh total. Semua pekerjaan rumah ia yang selesaikan, membuat masakan sebelum pergi sekolah dan menyempatkan ntuk menyuapi adiknya makan, serta membersihkan rumah setelah pulang sekolah.

     Suatu hari, karena merasa haus, ibunya ingin mengambil minum di dapur. Caca asyik bermain dengan bonekanya, terdengar suara gelas kaca terjatuh ke lantai dari dapur. Caca langsung menuju dapur dan mendapati ibunya tertidur di lantai, di guncang-guncangkan tubuh ibunya sambil menangis. Melihat ibunya yang tak merespon, Caca berlari mengambil telepon dan jari kecilnya memencet tombol angka dengan kebingungan.

 “Halo?” terdengar suara dari sebelah sana.

“Kakak, ini Caca, kakak pulang kak, pulang”. Suara Caca semakin parau, Rifa menjadi panic mendengar suara adiknya.

“Kenapa dek? Bilang sama kakak ada apa?”

“Mama jatuh kak, mama diam aja di lantai gak gerak-gerak”. Tangisnya pecah. Rifa dengan halus membujuk Caca agar berhenti menangis, untunglah Caca sudah mulai tenang.

“Kakak pulang sekarang, Caca jaga mama ya?”

     Rifa langsung mengambil tasnya dan pulang kerumah dengan terburu-buru. Kali ini Aldi tidak tahu karena Rifa tidak sempat mengabarkannya.

     Tanpa piker panjang, di angkot tadi Rifa sudah menelpon Ambulance, dan tak lama setelah Rifa sampai di rumahnya, ambulance itu dating dan langsung meluncur ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Rifa dan Caca hanya bisa menangis, apalagi Caca, dia takut dan selalu memegang tangan mamanya.

     “Dek Rifa, dengan berat saya ingin menyampaikan bahwa ginjal kiri mama kamu sudah sangat lemah, beliau harus melakukan cuci darah 2 minggu sekali, apalagi ini adalah ginjal mama kamu satu-satunya”. Ucap dokter dengan serius.

Rifa terus menunduk, tak mengerti harus melakukan apa. Di letakkan kedua tangannya di atas wajahnya yang terasa lembab karena terus di aliri tumpahan air mata.

     “Tapi dok, biayanya…”

     “Dek, ini demi mama kamu, apabila tidak segera dilakukan pencakokan, saya takut jika…”

     “Baik dokter, lakukan secepatnya, tolong mama saya dokter”. Ujung matanya yang tadi terlihat setitik air bercahaya, akhirnya jatuh juga. Besok mamanya harus segera melakukan cuci darah yang pertama, namu Rifa harus melunasi biayanya.

     Hari mulai petang, terdengar suara azan dari Mesjid dekat rumah sakit itu, Rifa segera mengambil air wudhu dan menunaikan solat, dengan bersimpuh penuh ikhlas, Rifa menghantarkan doa kepada Tuhan agar diberikan jalan dalam cobaannya ini. Rifa ingin menenangkan diri. Setelah solat, ia pergi ke taman sendirian untuk berpikir. Duduklah ia di sebuah bangku panjang. ‘Tuhan, apa yang harus aku lakukan’. Mukanya memerah, menandakan bahwa ia benar-benar sedih, pusing, kelelahan, bingung, dan sebagainya. Uang tabungan Rifa hampir habis untuk biaya operasi kemarin, bahkan sebagian dari biaya operasi ibunya kemarin dibantu oleh Aldi, Rifa tidak mungkin meminta bantuan lagi pada Aldi untuk membiayai perobatan ibunya, ia sudah berkali-kali merepotkan Aldi. Walaupun keluarga Aldi tergolong kalangan atas, tapi Rifa juga punya rasa tau diri terhadap kekasihnya.

 

Di tengah rasa bimbangnya, tiba-tiba ia merasakan ada yang merangkul pundaknya.

“Maya?” tanyanya heran menatap gadis itu sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya.

“Gue bisa bantu pengobatan mama lo” Katanya dengan halus.

Rifa kaget sekaligus bingung, benarkah musuh bebuyutannya ini sudah berubah? Mengapa tiba-tiba ia seperti malaikat yang datang di saat Rifa sedang di landa musibah? Apakah selama ini Rifa salah menilai Maya? Timbul banyak pertanyaan dalam dirinya.

“Tapi, biaya cuci darah mama gue mahal May, 2 minggu sekali dia harus menjalani cuci darah”

“Yah, lo tau lah perusahaan papa gue berhambur, kalo cuma pengobatan mama lo sih gampang, lo tenang aja, gue bakal biayain cuci darah mama lo sampai sembuh” Maya menepuk-nepuk pundak rifa.

“Serius May lo mau bantu gue?” di tatapnya gadis itu,

     “Serius lah”

Rifa meraih tangan Maya. “Terimakasih banyak May, maaf selama ini aku salah menilaimu.

“Well, tapi jangan senang dulu!” Maya mengibaskan rambut panjang yang ada di bahunya ke belakang. Rifa menatap Maya penuh heran.

“Gue bakal bantu pengobatan mama lo, tapi..”

“Tapi apa May? Katakan!”

“Tapi serahkan Aldi ke gue!”

Rifa terdiam. Di lepaskannya tangan Maya dari genggamannya dan bangun dari duduknya ke hadapan Maya.

“Apa lo bilang? Aldi? Gue gak bakal nyerahin Aldi ke cewek kayak lo. Ternyata dugaan gue salah, gue kira lo ikhlas nolongin gue, tapi nyatanya, lo benar-benar licik!!”

“Yaa, terserah sih, kalo lo memang gak ingin mama lo selamat. Gue pulang dulu..”

     Rifa makin cemas dan takut mendengar omongan Maya, terlintas wajah ibunya yang tegar menjaga dia dan Caca selama ini, tega kah ia melihat ibunya sakit seperti itu, yang sendirian memperjuangkan kehidupan mereka bertiga? Mau kah ia kehilangan orangtua tua satu-satunya yang sangat di cintainya? Tentu tidak, cukup sekali ia kehilangan sosok sang ayah, dan kali ini ia tak akan mau kehilangan ibunya. Tapi bagaimana dengan Aldi? Aldi juga orang yang sangat di sayangi Rifa, hanya Aldi yang dapat membuatnya tenang, hanya Aldi yang bisa menegarkannya di saat seperti ini. Sanggup kah Rifa melihat Aldi pergi dengan wanita lain, bahkan wanita itu Maya? Wanita yang selama ini di bencinya. Tapi ibunya benar-benar butuh pertolonga, jika tidak, maka….

“Maya tunggu!” Rifa berlari menuju Maya yang sedang membuka pintu mobilnya. Maya mengangkat kacamata hitamnya dan melihat seorang gadis berlari menghampirinya.

“Gimana? Udah berubah pikiran?” sambil melipat kedua tangannya.

“Baik, gue turutin mau lo, tapi plis tolong mama gue”. Katanya penuh harap

“Hm, baiklah, ntar malem pastikan Aldi harus jadi milik gue”

 

Malam harinya, dengan berat hati ia meminta Aldi menemuinya di rumah sakit.

“Aldi, aku mau nanya sesuatu ke kamu”

“Ada apa Fa?”

Mereka duduk di taman rumah sakit itu, tepat di bangku yang ditempati Rifa tadi sore.

“Kamu sayang kan Di sama aku?”

“Kenapa bertanya seperti itu, dari dulu kan kamu tau aku sayang sama kamu, bahkan aku susah payah mendapatkanmu Fa”

“Iya, aku tau”. Rifa menatap mata Aldi, sungguh berat rasanya ia ingin melanjutkan kata-katanya. “Kalo kamu sayang sama aku, aku boleh minta sesuatu sama kamu?”

“Apapun keinginanmu, jika aku sanggup aku akan coba memenuhinya”. Aldi memegang tangan Rifa.

“Aku, hm, aku minta hubungan kita sampai di sini, dan aku ingin kamu jadian sama Maya”. Lagi-lagi Rifa tak sanggup membendung air matanya, Rifa tertunduk menutupi tangisnya.

Aldi begitu kaget mendengar pernyataan Rifa, di angkatnya dagu Rifa.

“Kamu gak serius kan? Bilang Fa, kalo kamu Cuma bercanda”. Kata Aldi tak percaya.

“Apa muka aku terihat bercanda Di?”

“Nggak, aku gak mau!”

“Tapi kamu udah janji Di, kamu akan penuhi keinginanku”

“Tapi kenapa??”

“Karena Maya lebih pantes jadi milik kamu dari pada aku!, aku ini gadis miskin Di, aku cuma bisa nyusahin kamu. Plis, kamu turutin keinginan aku kalo kamu emang benar-benar sayang sama aku. Aku jamin dia akan bahagiain kamu”.   

“Kamu tau kan aku gak pernah melihat cinta dari sisi materi? Aku tulus sayang sama kamu Fa!” bentak Aldi.

     Tangis Rifa semakin menjadi, taman yang sepi itu hanya di penuhi oleh suara mereka berdua. Aldi langsung memeluk erat Rifa. “Aku takut kehilangan kamu Rifa”.

Rifa melepaskan pelukan Aldi. “Aldi, plis, aku mohon”. Ia berlutut di hadapan Aldi. Aldi memegang pundaknya.

“Baiklah, kalo emang itu mau kamu, aku akan turuti walaupun aku gak masih gak terima alasan seperti ini”.

Aldi pergi meninggalkan Rifa.

 

     Tepat pukul 11.45, Rifa mendapatkan 2 pesan di handphonenya. Maya dan Aldi.

“Lo ud nrutin kmwn gw, gw akn byr k rmh skt bsk!” (Maya)

“Aq lakuin in bkn krna keinginanq, ni smw aq lakukan demi qm, dmi jnji aq, tp hrs sll qm tw, aq gk akn brhnti mncintaimu!” (Aldi).

 

     Cuci darah pertama di lalui mama Rifa dengan lancar. Setelah baikan, ia membawa pulang mamanya. Di rawat dengan baik dan penuh kasih sayang. Tak akan bisa terbayangkan gimana jadinya jika ia kehilangan seseorang yang begitu berharga ini. Caca yang selalu membawa boneka kesayangannya itu, hanya bisa melihat mamanya dan menemani mamanya di setiap waktu, tak jarang ia menghibur mamanya jika mamanya sedang kesepian.

 

Hari-hari dilewati Rifa tanpa Aldi, tidak ada lagi perhatian dari Aldi, tidak ada lagi uacapan selamat malam. Bagaimanapun ia bersyuku mamanya bisa berobat tanpa harus memusingkan biaya yang besar itu, namun tak bisa di pungkiri, ia juga masih membutuhkan Aldi di sampingnya.

Malam ini begitu dingin, Rifa duduk di jendela kamarnya yang terbuka. Melihat gelapnya malam, menatap langit yang di taburi bintang, merasakan angin yang berhembus hingga menusuk tulangnya. Ia menangis menahan rasa rindunya pada Aldi, bahkan awan pun enggan menemaninya menangis.

 

  Ringtone mellow bunyi dari handphonenya, betapa antusiasnya ia mendapatkan telepon dari Aldi. Rifa mengangkatnya. Mereka berbincang hampir 1 jam. Aldi menelepon Rifa di saat tepat Rifa sedang merindukannya. Aldi juga mengajak Rifa jalan besok malam, dan Rifa langsung menyetujuinya. Walaupun status mereka tidak lagi sebagai sepasang kekasih, namun mereka masih saling menyayangi.

     Keesokan malamnya, Aldi menjemput Rifa dengan meticnya, mereka menuju sebuah mall untuk makan malam. Di sana mereka masih terlihat sangat akrab walaupun sudah seminggu tidak ada kontak. Sungguh bahagia Rifa saat itu.

 

Ini adalah minggu ketiga, hari ini jadwal cuci darah mamanya. Ia dan mamanya pergi ke Rumah sakit, sedangkan Caca di titipkan di tempat tetangganya. Sesampainya di rumah sakit mereka menuju meja untuk melapor, Rifa tercengang mendengar pernyataan dari suster di situ bahwa mamanya tidak bisa cuci darah karena biayanya belum di bayar.

“Sudah lah nak, mama juga masih sehat, kita pulang saja”. Mamanya tersenyum, walaupun tak bisa menutupi wajahnya yang sedikit pucat pasi.

 

     Keesokan harinya di sekolah, Rifa menemui Maya di depan koridor dekat tangga.

“May, lo kan udah janji bakal biayain cuci darah mama gue, tapi kemarin kenapa mama gue gak bisa cuci darah? Gue kan udah ngerelain Aldi ke elo”.

 

“Heh! Lo kira gue bisa dibohongin, lo kira gue gak tau kalo kalian berdua malam itu jalan ke mall? Hah!?”

 

Rifa teringat kejadian itu..

 

“Tapi May, jujur gue Cuma makan malam”

“Gue gak peduli!! Gue bener-bener gak suka ya lo deket-deket sama cowok gue! Lu inget, sekarang di milik gue! Lu ngerti !”

“Iya, gue minta maaf May, tapi pliss..”

“Dan gue gak akan bayarin biaya mama lo lagi!” kata Maya sambil menunjuk Rifa.

     Dari atas tangga, Aldi berhenti berjalan dan menyembunyikan dirinya, ia ingin mendengarkan semua pembicaraan Rifa dan Maya.

“Maya plis, gue minta maaf, gue janji gak akan dekatin Aldi lagi, gue janji, lo boleh ambil Aldi, tapi plis, jangan biarin mama gue menderita, gue mohon!.”

 

“Oke, gue bakal turutin! Tapi sekarang gue mau lu berlutut ke gue di hadapan anak-anak, dan minta maaf ke gue!”

 

“Tapi May..”

 

“Jangan sampai pikiran gue berubah!” bentak Maya,

 

     Keributan mereka mengundang ketertarikan semua murid di sekitar mereka. Bahkan mereka semakin mendekat dan mengelilingi Maya dan Rifa.

     Dengan ragu, Rifa duduk di hadapan Maya.

“Gue..” Rifa tertunduk. Semua mata benar-benar tertuju pada kedua gadis itu.

“CUKUP !!!” Aldi datang dari atas tangga. Ia menarik lengan Rifa untuk berdiri. Maya kaget, bingung, dan menjadi salah tingkah.

“Oh, jadi lo yang ngerusak hubungan gue sama Rifa! Iya?! Ha?! Licik banget lo ya! Asal lo tau ya, gue gak pernah cinta sama lo, gue jadian sama lo atas permintaan Rifa, oh, dan ternyata lo pelakunya!”.

 

‘prakk!’, Aldi menampar pipi Maya.

 

“Sayang, denger dulu penjelasanku”. Maya menarik tangan Aldi, namun Aldi menghempasnya. Anak-anak yang menonton semakin ramai.

 

“Gue gak butuh omong kosong lo! Dan satu lagi, jangan pernah ganggu gue dan Rifa, atau lu yang akan tanggung akibatnya!”

     Rifa dan Aldi pergi melewwati kerumunan itu.

 

“Huuuuuuuuuuuuuuuuu!!!” Semua kerumunan membalikkan jempolnya ke arah Maya. Maya benar-benar malu, dan pergi dari situ sambil menangis. “Rifa sialan, rrgh!”

 

     Setelah kejadian itu, Aldi sempat marah kepada Rifa, Rifa benar-benar meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Rifa menyesal, tapi ini semua demi kesembuhan ibunya. Aldi tak pernah tega melihat orang yang di sayanginya merasa bersalah

     Aldi kemudian membiayai semua pengobatan ibu Rifa, dan Alhamdulillah, atas izin Allah, ginjal ibu Rifa lama kelamaan semakin membaik dan mendekati normal. Di balik kebahagiaan itu, Rifa dan Aldi kembali bersatu. Sedangkan Maya, tidak ada kabar tentangnya. Terakhir mereka tahu bahwa Maya pindah sekolah karena malu atas kejadian memalukan itu.

Dan hubungan Aldi bersama Rifa ternyata awet hingga menuju pernikahan.

Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: